topbella
Welcome Myspace Comments

Senin, 10 Oktober 2022

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Menumbuhkan Jiwa Kompetisi bagi Siswa di Era Digital

Oleh :

Kiki Rextika Diani Putri, S.Pd.

SDN Medowo 1 - Kec. Kandangan

CGP Angkatan 4 - Kab. Kediri

 

Latar Belakang

Penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan berlangsung dengan cepat. Dengan media internet, anak bisa berselancar di dunia maya untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan pesat. Hal ini sangat mempengaruhi persaingan di dunia kerja di masa depan, pastinya menjadi sangat ketat.

Jiwa kompetisi perlu ditumbuhkan sejak dini, agar siswa bisa kuat dan teguh dalam menghadapi rintangan di suatu saat nanti. Bagaimana kiat guru agar bisa mengembangkan jiwa kompetisi kepada siswa di masa kini?

1. Dukung Bakat dan Minat Siswa

Setiap siswa tentu memiliki kegemaran. Kegemaran biasanya erat kaitannya dengan bakat yang ingin ia kembangkan. Guru perlu mencermati hal ini. Berikan metode pembelajaran yang tidak monoton, namun perlu bervariasi. Berikan ruang bagi siswa untuk berkreasi dan berekspresi sesuai dengan minat, ketrampilan, bakat, dan potensi.

2. Berikan Apresiasi

Apresiasi bisa berupa pujian dan hadiah yang menyenangkan. Saat siswa mencapai suatu perkembangan yang positif, jadikanlah kesempatan ini untuk memberikan apresiasi yang motivatif. Pujian dari hati, hadiah, atau piagam penghargaan pasti akan memberikan dampak yang memotivasi.

3. Kegagalan adalah Pelajaran

Tanamkan dalam diri siswa bahwa keberhasilan adalah hal yang harus disyukuri dan memberikan pengaruh yang memotivasi. Sedangkan kegagalan adalah suatu pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik, belajar lebih rajin, dan memiliki kemampuan yang lebih hebat lagi. Sampaikan hal ini saat mengadakan lomba di lingkungan sekolah, atau saat kegiatan pembelajaran sebagai kata-kata yang menginspirasi.

4. Kehidupan Sosial itu Penting

Saat mengalami kegagalan, beberapa orang bisa mengalami depresi. Salah satu sebanya adalah karena ia tidak memiliki seseorang untuk berbagi. Sedari usia dini, ajarkan kepada siswa pentingnya bersosialisasi. Keberhasilan yang besar juga sangat dipengaruhi oleh kekompakan dalam berkolaburasi, tidak hanya mengandalkan kemampuan diri. Kegiatan berkelompok dan yang memungkinkan siswa bisa melakukan diskusi dan interaksi perlu diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

5. Menumbuhkan Keberanian dan Kepercayaan Diri

Di era digital, ketrampilan berkomunikasi menjadi sesuatu yang vital. Ketrampilan berkomunikasi tidak hanya saat mereka bercakap-cakap dalam kehidupan sehari-hari, namun juga saat mereka melakukan presentasi. Kegiatan yang bersifat tampil di depan publik sangatlah penting, karena bisa mengembangkan jiwa pemberani, sikap kepemimpinan, dan karakter percaya diri.

Di era digital, selain kemampuan menggunakan teknologi, anak-anak perlu dipersiapkan menjadi pribadi yang hebat dalam berkompetisi.

 

Untuk melaksanakan aksi nyata saya menyusun prosedur BAGJA sebagai berikut.

B-uat Pertanyaan (Define)

Bagaimana menumbuhkan jiwa kompetisi siswa di era digital seperti saat ini?

·         Mengumpulkan informasi terkait ketertarikan siswa dalam kegiatan yang menumbuhkan jiwa kompetisi siswa

·         Mendata aset atau modal yang ada di sekolah dan dapat dimanfaatkan.

A-mbil Pelajaran(Discover)

Apa yang membuat siswa tertarik untuk berkompetisi?

·         Mengumpulkan informasi minat dan jenis kegiatan yang menarik bagi siswa untuk berkompetisi.

·         Mengumpulkan informasi terkait perlombaan yang dapat diikuti siswa.

G-ali Mimpi (Dream)

Harapan apa yang ingin diraih jika jiwa kompetisi siswa sudah terbentuk?

·         Harapan yang ingin diraih agar siswa dapat percaya terhadap kemampuan yang dimiliki dan mampu bersaing sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

J-abarkan Rencana (Design)

Langkah-langkap apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan jiwa kompetisi siswa?

·         Berkomunikasi dan koordinasi dengan kepala sekolah untuk mengadakan kegiata.

·         Memetakan minat dan jenis kegiatan yang mereka sukai

·         Mengadakan kegiatan seleksi sesuai minat dan jenis kegiatan siswa untuk menumbuhkan jiwa kompetisi siswa.

·         Menyusun program pendampingan atau pembinaan untuk kegiatan perlombaan.

·         Mengikuti perlombaan di luar sekolah secara terjadwal.

A-tur Eksekusi (Deliver)

Siapa saya yang harus terlibat dalam kegiatan menumbuhkan jiwa kompetisi siswa?

Bagaimana mereka berperan dalam menumbuhkan jiwa kompetisi siswa?

·         Kepala sekolah

·         Guru

·         Siswa sebagai subjek utama pendidikan

 

Dokumentasi

 

Seleksi sekolah untuk lomba OSN Puspresnas


Peserta dan pembina OSN Puspresnas (IPA dan Matematika) dari SDN Medowo 1




Pelaksanaan Lomba OSN Puspresnas Bidang Matematika




Pelaksanaan OSN Puspresnas Bidang IPA

Hasil Lomba OSN Puspresnas 2022 - Peringkat 5 Kabupaten



Minggu, 09 Oktober 2022

3.1.a.10. Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Oleh :

Kiki Rextika Diani Putri, S.Pd.

SDN Medowo 1 – Kec. Kandangan

CGP Angkatan 4 – Kab. Kediri

 

A.     Peristiwa (Fact)

Latar Belakang

Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung lebih dari dua tahun ini menimbulkan berbagai macam hambatan. Terutama saat sekolah saya melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Dalam mengikuti PTMT, murid belum maksimal dalam kesehariannya. Seringkali ditemukan adanya murid yang datang terlambat. Bahkan beberapa kali tidak berangkat ke sekolah. Alasannya bangun kesiangan, lupa, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa siswa disaat sedang pembelajaran mereka terkesan seperti kurang bersemangat dalam belajar.

Selain itu, guru juga kesulitan dalam menyampaikan pembelajaran. Beberapa guru melihat semangat belajar yang ada dalam diri murid sangatlah rendah. Belum lagi, ada guru yang mengeluhkan tentang pengetahuan dan keterampilan prasyarat yang belum dikuasai oleh murid. Tak jarang guru sering melontarkan keluhan ini di depan murid.

Seolah menjadi sebab, kejadian-kejadian di atas menjadi penghambat komunikasi antara guru dengan murid. Saya menduga murid lupa bagaimana cara menjalin hubungan antara dirinya dengan guru. Hal ini menguatkan dugaan adanya perubahan karakter yang dialami oleh murid karena lamanya pembelajaran daring. Hal ini diperparah dengan keterlambatan murid masuk kelas serta kurang bersemangat dalam belajar di sekolah.

 

Alasan Melaksanakan Aksi

Sesuai dengan apa yang diceritakan di atas, terlihat adanya dilema etika. Sekolah (dalam hal ini: guru), perlu membuat keputusan dari beberapa pilihan yang ada. Sebab, bila tidak ada tindakan yang dilakukan, murid dapat mengalami learning loss.

Prediksi terjadinya learning loss diperkuat dengan adanya perubahan sikap dan kemampuan anak dalam belajar. Mereka masih merasa belum siap. Disinyalir, hal ini terjadi karena terlalu lamanya pembelajaran secara daring. Padahal karakter, terutama kepercayaan diri siswa dalam mengikuti pembelajaran terbatas sangatlah diperlukan.

Oleh karenanya, saya sebagai Calon Guru Penggerak merasa perlu adanya keputusan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Harapannya tidak terjadi learning loss. Maka dari itu, saya mencoba membuat keputusan menggunakan “sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan” sebagai usaha untuk mendapatkan keputusan yang terbaik.

 

Hasil Aksi Nyata

Hasil aksi nyata yang telah diterapkan oleh CGP yaitu adanya kesadaran diri yang dimiliki oleh siswa terhadap masalah yang dialaminya, sehingga CGP membuat sebuah keputusan bahwa siswa yang mengalami hal tersebut masih dapat mengikuti pembelajaran di sekolah dengan pantauan dan dukungan dari guru serta siswa agar siswa yang mengalami masalah tersebut memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Guru dalam memberikan pembelajaran harus membangkitkan motivasi belajar siswa dan memiliki inovasi dalam pembeleajaran agar siswa merasa tertarik mengikuti pembelajaran yang diberikan. Dukungan dari kepala sekolah dalam menangani siswa yang memiliki masalah rendahnya motivasi belajar merupakan hal yang sangat positif sehingga pengambilan keputusan yang diberikan tepat dalam menangani dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

B.     Perasaan (Feelings)

Saya merasa lega dan bahagia. Saya lega karena dapat membuat perubahan terhadap murid saya. Awalnya saya merasa kesulitan ketika harus menjalin komunikasi dengan murid. Terutama untuk mencari tahu kenapa beberapa murid sering terlambat dan absen, serta beberapa murid yang seolah kurang bersemangat dalam pembelajaran di sekolah. Namun, setelah adanya komunikasi dan sharing bersama murid serta kunjungan rumah “home visit”, saya merasa lega. Saya dapat berkomunikasi secara terbuka dengan murid dan dengan orang tua. Ternyata faktor keterlambatan tidak hanya berasal dari diri murid. Tapi ada juga karena keterlambatan orang tua dalam mengantar anaknya. Saya merasa bahagia karena dapat meng-couching orang tua murid. Orang tua murid kini sadar pentingnya memprioritaskan anak di pagi hari. Terutama agar si anak tidak terlambat bahkan absen masuk sekolah. Selain itu, beberapa siswa yang kurang bersemangat dalam pembelajaran di sekolah dapat saya atasi dengan mengajak ice breaking sebelum pembelajaran serta menerapkan Teknik STOP dalam pembelajaran.

 

C.      Pembelajaran (Findings)

Pembelajaran yang saya peroleh adanya kenyataan bahwa permasalahan yang dialami murid berbeda-beda. Masalah yang muncul di sekolah dapat dipicu karena adanya masalah di rumah. Maka dari itu, dialog perlu dilakukan tidak hanya dengan murid, tapi juga dengan orang tuanya. Sebab, terbukti dapat meningkatkan kehadiran murid di sekolah. Selain itu, dapat meningkatkan motivasi murid untuk datang tepat waktu di pagi hari. Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang menyenagkan dan menumbuhkan motivasi serta berinovasi dalam pembelajaran terutama di masa pengembalian pembelajaran normal ini agar siswa semakin bersemangat kembali untuk belajar di sekolah.

 

D.     Perubahan (Future)

Perubahan yang terjadi di kemudian hari terletak pada kemampuan pengambilan keputusan. Selain itu, dari masalah yang terjadi dalam kasus ini, saya belajar tentang pentingnya kolaborasi dengan murid dan orang tua murid. Maka dari itu, saya akan selalu berusaha untuk menggunakan sembilan langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan. Saya juga akan menggencarkan komunikasi untuk menciptakan dukungan kolaboratif dengan orang tua murid. Selain itu, adanya perubahan orang tua murid dalam aspek kepercayaan terhadap sekolah. Orang tua semakin percaya dengan guru dan sekolah setelah adanya komunikasi yang kolaboratif.

Perlunya menerapkan pembelajaran kreatif dan inovatif untuk memperbaiki learning loss siswa di masa saat ini agar siswa mampu untuk bersaing sesuai dengan kemampuan dan jamannya.

 

Adapun langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu :

1.      Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Terdapat nilai-nilai yang saling bertentangan, antara lain adanya dilema Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kita dapat berpikir positif dan membiarkan anak untuk tidak datang tepat waktu bahkan membiarkan mereka tidak berangkat sekolah. Secara jangka pendek tentu tidak akan menimbulkan masalah yang begitu besar. Namun, dari tindakan pembiaran itu akan berakibat dalam jangka yang panjang. Mereka akan merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri ketika pembelajaran tatap muka sudah normal kembali. Padahal, terlihat dari grafik pandemi yang hampir selalu “0” membuat kemungkinan dilaksanakannya pembelajaran tatap muka secara normal terbuka lebar. Selain itu, kita dapat berpikiran bahwa siswa yang kurang bersemangat suatu saat nanti akan kembali bersemangat. Namun, di sisi lain jika kita membiarkan mereka kurang bersemangat dalam pembelajaran akan berakibat dalam jangka Panjang yaitu mereka akan selalu seperti itu akhirnya kurang berminat untuk belajar di sekolah. Tentunya hal ini akan berdampak jika pembelajaran sudah normal kembali, salah satunya yaitu learning loss.

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Kepala Sekolah, Guru, Murid, dan Orang Tua Murid

3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

  • Terdapat beberapa siswa yang sering datang terlambat
  • Ada satu siswa yang sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak wajar
  • Beberapa siswa kurang bersemangat dalam menerima pembelajaran.

4.      Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.

Tidak ada pelanggaran hukum/regulasi. Secara intuisi perlu ada tindakan. Panutan/idola saya akan melakukan beberapa opsi tindakan.

5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6.      Melakukan Prinsip Resolusi.

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7.      Investigasi Opsi Trilema.

Pilihan yang mungkin diambil adalah membuat kegiatan rutin di pagi hari yang dapat memotivasi murid datang tepat waktu. Selain itu, perlu dilakukan home visit untuk mengetahui keadaan murid di rumah. Harapannya tidak ada yang terlambat dan absen karena alasan yang tidak wajar. Melakukan kegiatan ice breaking sebelum pembelajaran dan melakukan Teknik STOP.

8.      Buat Keputusan.

Saya akan melakukan komunikasi dengan murid dan orang tua murid jika dimungkinkan akan melaksanakan kunjungan rumah “home visit”. Selain itu, melakukan kegiatan ice breaking sebelum pembelajaran dan menerapkan teknik STOP dalam pembelajaran.

9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.

Saya merasa keputusan di atas sudah tepat. Saya lakukan karena adanya rasa kepedulian terhadap masa depan murid saya. Keputusan berupa tindakan yang akan dilakukan pun tidak melanggar aturan atau norma yang ada.

 

Pada akhirnya, selesai sudah portofolio aksi nyata modul 3.1 ini ditulis. Saya berharap dapat selalu mempraktikkan langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sebab, dari praktik nyata ini saya merasakan adanya perubahan yang nyata dan signifikan. Pengambilan dan pengujian keputusan perlu dilakukan oleh guru secara berkala karena permasalahan di kelas dan sekolah akan selalu ada.

 

Lampiran: Dokumentasi

Berkomunikasi dan sharing bersama siswa untuk memperoleh keterangan langsung dari siswa


Melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

Siswa-siswi bersemangat dalam pembelajaran dan mampu mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan baik






 

Thank You Myspace Comments

About Me

Foto Saya
Khie Rextieccha
Live is a struggle... So do the best thing that you can do... Tell "I'm ready to do something new!!!"..
Lihat profil lengkapku