Oleh :
Kiki Rextika
Diani Putri, S.Pd.
SDN Medowo 1
– Kec. Kandangan
CGP Angkatan
4 – Kab. Kediri
A. Peristiwa (Fact)
Latar Belakang
Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung lebih dari dua
tahun ini menimbulkan berbagai macam hambatan. Terutama saat sekolah saya
melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Dalam mengikuti PTMT,
murid belum maksimal dalam kesehariannya. Seringkali ditemukan adanya murid
yang datang terlambat. Bahkan beberapa kali tidak berangkat ke sekolah.
Alasannya bangun kesiangan, lupa, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa siswa disaat
sedang pembelajaran mereka terkesan seperti kurang bersemangat dalam belajar.
Selain itu, guru juga kesulitan dalam menyampaikan pembelajaran.
Beberapa guru melihat semangat belajar yang ada dalam diri murid sangatlah
rendah. Belum lagi, ada guru yang mengeluhkan tentang pengetahuan dan
keterampilan prasyarat yang belum dikuasai oleh murid. Tak jarang guru sering
melontarkan keluhan ini di depan murid.
Seolah menjadi sebab, kejadian-kejadian di atas menjadi penghambat
komunikasi antara guru dengan murid. Saya menduga murid lupa bagaimana cara
menjalin hubungan antara dirinya dengan guru. Hal ini menguatkan dugaan adanya
perubahan karakter yang dialami oleh murid karena lamanya pembelajaran daring.
Hal ini diperparah dengan keterlambatan murid masuk kelas serta kurang
bersemangat dalam belajar di sekolah.
Alasan Melaksanakan Aksi
Sesuai dengan apa yang diceritakan di atas, terlihat adanya dilema
etika. Sekolah (dalam hal ini: guru), perlu membuat keputusan dari beberapa
pilihan yang ada. Sebab, bila tidak ada tindakan yang dilakukan, murid dapat
mengalami learning loss.
Prediksi terjadinya learning loss diperkuat dengan adanya perubahan
sikap dan kemampuan anak dalam belajar. Mereka masih merasa belum siap.
Disinyalir, hal ini terjadi karena terlalu lamanya pembelajaran secara daring.
Padahal karakter, terutama kepercayaan diri siswa dalam mengikuti pembelajaran
terbatas sangatlah diperlukan.
Oleh karenanya, saya sebagai Calon Guru Penggerak merasa perlu adanya
keputusan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Harapannya tidak terjadi
learning loss. Maka dari itu, saya mencoba membuat keputusan menggunakan
“sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan” sebagai usaha untuk
mendapatkan keputusan yang terbaik.
Hasil Aksi Nyata
Hasil aksi nyata yang telah diterapkan oleh CGP yaitu adanya kesadaran
diri yang dimiliki oleh siswa terhadap masalah yang dialaminya, sehingga CGP
membuat sebuah keputusan bahwa siswa yang mengalami hal tersebut masih dapat
mengikuti pembelajaran di sekolah dengan pantauan dan dukungan dari guru serta
siswa agar siswa yang mengalami masalah tersebut memiliki motivasi yang tinggi
dalam belajar. Guru dalam memberikan pembelajaran harus membangkitkan motivasi
belajar siswa dan memiliki inovasi dalam pembeleajaran agar siswa merasa
tertarik mengikuti pembelajaran yang diberikan. Dukungan dari kepala sekolah
dalam menangani siswa yang memiliki masalah rendahnya motivasi belajar
merupakan hal yang sangat positif sehingga pengambilan keputusan yang diberikan
tepat dalam menangani dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
B. Perasaan (Feelings)
Saya merasa lega dan bahagia. Saya lega karena dapat membuat perubahan
terhadap murid saya. Awalnya saya merasa kesulitan ketika harus menjalin
komunikasi dengan murid. Terutama untuk mencari tahu kenapa beberapa murid
sering terlambat dan absen, serta beberapa murid yang seolah kurang bersemangat
dalam pembelajaran di sekolah. Namun, setelah adanya komunikasi dan sharing bersama
murid serta kunjungan rumah “home visit”, saya merasa lega. Saya dapat
berkomunikasi secara terbuka dengan murid dan dengan orang tua. Ternyata faktor
keterlambatan tidak hanya berasal dari diri murid. Tapi ada juga karena
keterlambatan orang tua dalam mengantar anaknya. Saya merasa bahagia karena
dapat meng-couching orang tua murid. Orang tua murid kini sadar pentingnya
memprioritaskan anak di pagi hari. Terutama agar si anak tidak terlambat bahkan
absen masuk sekolah. Selain itu, beberapa siswa yang kurang bersemangat dalam
pembelajaran di sekolah dapat saya atasi dengan mengajak ice breaking sebelum
pembelajaran serta menerapkan Teknik STOP dalam pembelajaran.
C. Pembelajaran (Findings)
Pembelajaran yang saya peroleh adanya kenyataan bahwa permasalahan yang
dialami murid berbeda-beda. Masalah yang muncul di sekolah dapat dipicu karena
adanya masalah di rumah. Maka dari itu, dialog perlu dilakukan tidak hanya
dengan murid, tapi juga dengan orang tuanya. Sebab, terbukti dapat meningkatkan
kehadiran murid di sekolah. Selain itu, dapat meningkatkan motivasi murid untuk
datang tepat waktu di pagi hari. Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang
menyenagkan dan menumbuhkan motivasi serta berinovasi dalam pembelajaran
terutama di masa pengembalian pembelajaran normal ini agar siswa semakin
bersemangat kembali untuk belajar di sekolah.
D. Perubahan (Future)
Perubahan yang terjadi di kemudian hari terletak pada kemampuan
pengambilan keputusan. Selain itu, dari masalah yang terjadi dalam kasus ini,
saya belajar tentang pentingnya kolaborasi dengan murid dan orang tua murid.
Maka dari itu, saya akan selalu berusaha untuk menggunakan sembilan langkah
dalam pengambilan dan pengujian keputusan. Saya juga akan menggencarkan
komunikasi untuk menciptakan dukungan kolaboratif dengan orang tua murid.
Selain itu, adanya perubahan orang tua murid dalam aspek kepercayaan terhadap
sekolah. Orang tua semakin percaya dengan guru dan sekolah setelah adanya
komunikasi yang kolaboratif.
Perlunya menerapkan pembelajaran kreatif dan inovatif untuk memperbaiki
learning loss siswa di masa saat ini agar siswa mampu untuk bersaing sesuai
dengan kemampuan dan jamannya.
Adapun langkah-langkah
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu :
1.
Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi
ini.
Terdapat nilai-nilai yang
saling bertentangan, antara lain adanya dilema Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term). Kita dapat berpikir positif dan membiarkan
anak untuk tidak datang tepat waktu bahkan membiarkan mereka tidak berangkat
sekolah. Secara jangka pendek tentu tidak akan menimbulkan masalah yang begitu
besar. Namun, dari tindakan pembiaran itu akan berakibat dalam jangka yang
panjang. Mereka akan merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri ketika
pembelajaran tatap muka sudah normal kembali. Padahal, terlihat dari grafik
pandemi yang hampir selalu “0” membuat kemungkinan dilaksanakannya pembelajaran
tatap muka secara normal terbuka lebar. Selain itu, kita dapat berpikiran bahwa
siswa yang kurang bersemangat suatu saat nanti akan kembali bersemangat. Namun,
di sisi lain jika kita membiarkan mereka kurang bersemangat dalam pembelajaran
akan berakibat dalam jangka Panjang yaitu mereka akan selalu seperti itu
akhirnya kurang berminat untuk belajar di sekolah. Tentunya hal ini akan berdampak
jika pembelajaran sudah normal kembali, salah satunya yaitu learning loss.
2.
Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
Kepala Sekolah, Guru,
Murid, dan Orang Tua Murid
3.
Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
- Terdapat
beberapa siswa yang sering datang terlambat
- Ada satu
siswa yang sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak wajar
- Beberapa siswa
kurang bersemangat dalam menerima pembelajaran.
4.
Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi,
uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
Tidak ada pelanggaran
hukum/regulasi. Secara intuisi perlu ada tindakan. Panutan/idola saya akan
melakukan beberapa opsi tindakan.
5.
Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term)
6.
Melakukan Prinsip Resolusi.
Berpikir Berbasis Rasa
Peduli (Care-Based Thinking)
7.
Investigasi Opsi Trilema.
Pilihan yang mungkin
diambil adalah membuat kegiatan rutin di pagi hari yang dapat memotivasi murid
datang tepat waktu. Selain itu, perlu dilakukan home visit untuk mengetahui
keadaan murid di rumah. Harapannya tidak ada yang terlambat dan absen karena
alasan yang tidak wajar. Melakukan kegiatan ice breaking sebelum pembelajaran
dan melakukan Teknik STOP.
8.
Buat Keputusan.
Saya akan melakukan
komunikasi dengan murid dan orang tua murid jika dimungkinkan akan melaksanakan
kunjungan rumah “home visit”. Selain itu, melakukan kegiatan ice breaking sebelum
pembelajaran dan menerapkan teknik STOP dalam pembelajaran.
9.
Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
Saya merasa keputusan di
atas sudah tepat. Saya lakukan karena adanya rasa kepedulian terhadap masa
depan murid saya. Keputusan berupa tindakan yang akan dilakukan pun tidak
melanggar aturan atau norma yang ada.
Pada akhirnya, selesai sudah portofolio aksi nyata modul 3.1 ini
ditulis. Saya berharap dapat selalu mempraktikkan langkah-langkah pengambilan
dan pengujian keputusan. Sebab, dari praktik nyata ini saya merasakan adanya
perubahan yang nyata dan signifikan. Pengambilan dan pengujian keputusan perlu
dilakukan oleh guru secara berkala karena permasalahan di kelas dan sekolah
akan selalu ada.
Lampiran: Dokumentasi

.jpeg)



0 komentar:
Posting Komentar